Situs Megalitikum Gunung Padang Piramida Cianjur! - Visiting Cianjur Bersemi

Sunday, 14 April 2024

Situs Megalitikum Gunung Padang Piramida Cianjur!

Piramida Cianjur! Situs Megalitikum Gunung Padang
Piramida Cianjur! Situs Megalitikum Gunung Padang


Hasil penelitian terbaru dari Peneliti Danny Hilman Natawidjaja mengklaim bahwa Gunung Padang mungkin merupakan piramida tertua di dunia dan menunjukkan bahwa peradaban di Indonesia telah berkembang sebelum abad ke-4 Masehi. Natawidjaja berharap agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap rahasia dan sejarah peradaban kuno di situs ini.

Penelitian dilakukan dengan melakukan survei terpadu selama tiga tahun, dimulai dari November 2011 hingga Oktober 2014. Metode yang digunakan termasuk pemetaan lanskap, pengeboran inti, pembuatan parit, dan teknik geofisika terpadu seperti Tomografi Resistivitas Listrik (ERT) dan Radar Tembus Tanah (GPR). Operasi penggalian dimulai pada pertengahan tahun 2012 dan berlangsung hingga September 2014.

Situs Gunung Padang, menurut Natawidjaja, bukanlah bukit alami tetapi merupakan konstruksi berbentuk piramida berlapis. Lapisan-lapisan tersebut menunjukkan usia yang berbeda, dengan yang terbawah diperkirakan berusia 16.000 - 27.000 tahun sebelum Masehi.

Peneliti menemukan struktur batu lava yang diukir dengan cermat di inti piramida, yang diyakini telah ada sejak Zaman Es periode terakhir. Natawidjaja menyatakan bahwa temuan ini menantang pandangan konvensional tentang sejarah peradaban manusia.

Namun, Dr. Lutfi Yondri, seorang arkeolog dari Jawa Barat, mempertanyakan kesimpulan ini. Menurutnya, literatur yang ada tidak menyebutkan adanya piramida di Indonesia, dan deskripsi awal dari catatan sebelumnya menyebutkan Gunung Padang sebagai kuburan kuno di atas gundukan tanah. Yondri berpendapat bahwa klaim tentang Gunung Padang sebagai piramida mungkin tidak didasarkan pada data yang cukup kuat, dan menyoroti bahwa Indonesia tidak memiliki sejarah budaya membuat piramida.

Kritik Yondri menyoroti pentingnya verifikasi data dan konteks dalam penelitian arkeologi, serta perlunya menggunakan sampel budaya yang memenuhi syarat-syarat tertentu.


Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda